• info@jannahqu.org


Sejarah Pembukuan dan Penulisan Al-Qur'an Pada Masa Rasulullah

Pembukuan dan Penulisan Al-Qur'an Pada Masa Rasulullah

11/05/2019

Pembukuan dan Penulisan Al-Qur'an Pada Masa Rasulullah

1. Al jam’u fis shudur:

pembukuan/pengumpulan/penulisan di hati, yakni al qur’an dikumpulkan dan dihafal di hati Nabi Muhammad setelah diterima dari Jibril untuk kemudian diajarkan kepada para sahabat, dan merekapun menghafalnya, dengan urutan ayat sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi. Jumlah para sahabat yang menghafal sangat banyak

2. Al Jam’u fis suthur:

Artinya yaitu penulisan Al Qur’an secara tertulis. Nabi menjadikan beberapa shahabat sebagai penulis, diantaranya 4 kholifah rasyidin, ubay bin ka’ab, zaid bin tsabit, Mu’awiyah, dll. 

Penulisan dilakukan diatas lempengan batu, kulit, pelepah kurma, tulang, kayu, dll dari bahan-bahan yang tersedia di kala itu. “Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis Al Quran (mengumpulkan) pada kulit binatang” (HR. Al Hakim dari Anas)

Pada masa ini Nabi melarang penulisan selain Al Qur’an. “Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al Quran, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al Quran maka hendaklah ia menghapusnya ” (HR. Muslim).

Nabi memerintahkan untuk menuliskan wahyu dan menerangkan tentang tertibnya ayat dan surat. “Jibril datang kepadaku dan memerintahkanku untuk meletakkan ayat ini di tempat ini dari surat ini”. (HR. Bukhori)


Pada masa ini mushaf tidak tertulis dalam satu buku, namun tersebar dalam batu, tulang, pelepah, kulit, dll. 
Setelah ditulis, maka mushaf disimpan di rumah Nabi, dan tiap penulis menyalin untuk dirinya sendiri, sehingga banyak para sahabat mempunyai manuskrip yang berisi al qur’an

Penulisan ini selama wahyu turun hingga kurun 23 tahun, dimana wahyu turun secara bertahap. Mengapa Al Qur’an turun secara bertahap? (Al Furqan: 32)
Pembukuan Pada Zaman Abu Bakar R.a
Pembukuan ini bermula setelah terjadinya perang Yamamah pada thn 12 H, perang antara kaum muslimin melawan kaum murtad dari pengikut Musailamah Al Kadzdzab. Wafat 70 orang dari penghafal al qur’an pada perang itu. 

Umar bin Khattab melihat kejadian ini, terasa kaget lalu datang kepada Abu Bakar memberikan ide untuk membukukan Al Qur’an.
Dari Zaid: Suatu ketika Abu bakar menemuiku untuk menceritakan perihal korban pada perang Yamamah , ternyata Umar juga bersamanya. Abu Bakar berkata :” Umar menghadap kepadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al Quran, aku khawatir kejadian serupa akan menimpa para penghafal Al Quran di beberapa tempat sehingga suatu saat tidak akan ada lagi sahabat yang hafal Al Quran, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah memerintahkan untuk mengumpul-kan Al Quran, lalu aku berkata kepada Umar : ” bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ?” Umar menjawab: “Demi Allah, ini adalah sebuah kebaikan”. Selanjutnya Umar selalu saja mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan usul umar untuk mengumpulkan Al Quran."
Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : “engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan pintar, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al Quran) untuk Rasulullah , maka sekarang periksa dan telitilah Al Quran lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf”.

Zaid berkata : “Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al Quran. Kemudian aku teliti Al Quran dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan batu, dan hafalan para sahabat yang lain.“

Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar, Setelah ia wafat disimpan oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, setelah ia pun wafat mushaf tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w. yang bernama Hafsah binti Umar r.a.

Dalam metoda penulisan, Zaid tidak kembali menulis/pembukuan kecuali ada dua saksi; tulisan dan hafalan. Begitu hingga selesai semua penulisan hingga terkumpul menjadi satu. 
Para sahabat semua mendukung usaha pembukuan dalam masa Abu Bakar ini. 
Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu bakar, -semoga ia mendapat rahmat Allah karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al Quran-, selain itu juga Abu bakarlah yang pertama kali menyebut Al Quran sebagai Mushaf.

Pembukuan Al-Qur'an Pada Masa Utsman

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa suatu saat Hudzaifah yang pada waktu itu memimpin pasukan muslim untuk wilayah Syam (sekarang syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu termasuk soviet) dan Iraq menghadap Usman dan menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Al Quran yang mengarah kepada perselisihan.
Ia berkata : “wahai usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Al Quran, jangan sampai mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum yahudi dan nasrani “.
Lalu Usman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk disalin oleh panitia yang telah dibentuk oleh Usman yang anggotanya terdiri dari para sahabat diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al’Ash, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain.


Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Al Quran ini terjadi pada tahun 25 H, Usman berpesan apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar mengacu pada Logat bahasa suku Quraisy karena Al Quran diturunkan dengan gaya bahasa mereka.
Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu bakar dikembalikan lagi kepada Hafsah. Selanjutnya Usman memerintahkan untuk membakar setiap naskah-naskah dan manuskrip Al Quran selain Mushaf hasil salinannya yang berjumlah 6 Mushaf.
Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang belakangan dikenal sebagai Mushaf al-Imam.

Zaman Setelah Zaman Khulafa Ar-Rasyidin

Pada masa berikutnya kaum muslimin menyalin mushhaf-mushhaf yang lain dari mushhaf Utsmani tersebut dengan tulisan dan bacaan yang sama hingga sampai kepada kita sekarang.
Pada masa pemerintahan Mu’awiyah ( 60 H/679 M ),dia menerima perintah untuk melaksanakan tanda titik kedalam naskah mushaf, yang kemungkinan dapat terselesaikan pada tahun 50 H/670 M.[10]
Adapun pembubuhan tanda syakal berupa fathah, dhamah, dan kasrah dengan titik yang warna tintanya berbeda dengan warna tinta yang dipakai pada mushhaf yang terjadi di masa Khalifah Muawiyah dilakukan untuk menghindari kesalahan bacaan bagi para pembaca al-Qur`an yang kurang mengerti tata bahasa Arab.
Pada masa Daulah Abbasiyah, tanda syakal ini diganti. Tanda dhamah ditandai dengan dengan wawu kecil di atas huruf, fathah ditandai dengan alif kecil di atas huruf, dan kasrah ditandai dengan ya` kecil di bawah huruf. Begitu pula pembubuhan tanda titik di bawah dan di atas huruf di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dilakukan untuk membedakan satu huruf dengan huruf lainnya.
Dengan demikian, al-Qur`an yang sampai kepada kita sekarang adalah sama dengan yang telah dituliskan di hadapan Rasulullah saw. Allah SWT telah menjamin terjaganya al-Qur`an. Tidak ada orang yang berusaha mengganti satu huruf saja dari al-Qur`an kecuali hal itu akan terungkap.
Allah SWT berfirman:
Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr: 9)
Oleh karena itu, tidak perlu kita ragu-ragu terhadap orisinalitas al-Qur`an.

Sekitar Tulisan Al-quran

1.      Bentuk tulisan Alquran dan para ahli di masa lalu

Awal mula belajar menulis diantara orang Arab ialah Basyir bin Abdul Malik saudara Ukaidar daumah, ia belajar pada orang Al-Anbar, Harb dan anaknya Sufyan belajar menulis padanya,  kemudian Harb mengajar Umar bin Khattab. Mu’awiyyah belajar pada Sufyan Bapak kecilnya tulisan orang Al-Anbar, kemudian diperbaiki (disempurnakan)oleh Ulama Kufah.
Tulisan itu tiada berbaris dan tiada bertitik. kemudian bentuk tulisan itu diperbaiki oleh Abu Ali Muhamad bin Ali bin Muqlah dan kemudian diperbaiki lagi oleh Ali bin Hilal Al Bagdady yang terkenal dengan nama Ibnu Bawab.

Setelah banyak yang bukan orang arab masuk islam, mulailah ada kecederaan dalam pembacaan Alquran, Maka timbullah kakhawatiran para ulama bahwa Alquran akan mengalami kecederaan-kecederaan. Ketika ituZiyad bin Abihi meminta kepada Abul Aswad Ad-Duali salah seorang ketua tabi’in untuk membuat tanda-tanda bacaan. Lalu Abul aswad Ad-Duali memberi baris huruf dan penghabisan dari kalimah saja dengan memakai titik di atas sebagai baris di atas, titik di bawah sebagai tanda baris di bawah dan titik di samping sebagai tanda di depan dan dua titik sebagai tanda baris dua. 

Usaha menberi titik huruf Alquran itu dikerjakan oleh Nashar bin Ashim atas perintah Al-Hajjaj. Urusan memberi baris dikerjakan oleh Khalil bin Ahmad. Khalil Bin ahmad memberi sistem baris Abul Aswad Ad-Duali dengan menjadikan alif yang dibaringkan di atas huruf, tanda baris di atas dan yang dibawah huruf tanda baris di bawah, dan wau tanda baris di depan dan membuat tanda mad (panjang bacaan) dan tsdyd (tanda huruf ganda).

Setelah itu barulah penghafal-penghafal Alquran membuat tanda-tanda ayat, tanda tanda wakaf (berhenti) dan ibtida (mulai) serta menerangkan di pangkal-pangkal surat, nama surat dan tempat tempat turunnya di Mekah atau Madinah dan menyebutkan bilangan ayat nya.


Selain itu ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa yang mula mula memberi titik dan baris  ialah Al-Hasan Al-Bishry dengan suruhan Abdul Malik bin Marwan. Abdil Malik bin Warwan memerintahkan kepada Al-hajjaj dan Al-hajjaj  menyuruh Al-Hasan Al-Bishry dan Yahya bin Ya’mura,murid Abul Aswad Ad- Duali

2.  Permulaan Alquran dicetak

Menurut sejarah Al-qur’an pertama kali Al-qur’an dicetak dan diterbitkan di Vinece sekitar tahun 1530 M, kemudian di Basel pada 1543, tetapi kemudian dimusnahkan atas perintah penguasa gereja.  Pada tahun 1694 M atau sekita tahun 1106 H, seorang jerman yang bernama Hinckelmann telah berhasil mencetak Alquran pertama di kota Hamburg.[11]

3.      Cara menulis Alquran di luar mushaf.

Menulis mushaf mengikuti cara yang dipakai dalam penulisan mushaf Khalifah ke-3 yaitu pada masa khalifah Ustman, yang dilaksanakan oleh komisi yang terdiri dari sahabat-sahabat besar, dan tulisan-tulisan itu dinamai Resam utsmani.
Dalam menulis Alquran terdapat 3 pendapat yang berbeda dari Ulama’ al-Qur’an  :
1)      Tidak di bolehkan sekali-sekali kita menyalahi khat ustmani, baik dalam menulis و  maupun dalam menulis  ا, dan dalam menulis yang lain-lainnya. Pendapat ini dipegang erat oleh imam Ahmad. Abu ‘Amer Ad Dany berkata: ”tidak ada yang menyalahi apa yang dinukilkan imam malik, yaitu tidak boleh kita menulis Alquran selain dengan yang ditetapkan oleh para sahabat itu”
2)      Tulisan Alquran itu bukan tauqifi : bukan demikian diterima dari syafa’ tulisan yang sudah ditetapkan itu, tulisan yang dimupakatkan menulisnya dimasa itu. Ibnu khaldun dalam muqaddimahnya, dan Alqadli Abu bakar dalam kitab Al intishar, Beliau berkata:  “Tuhan tidak mewajibkan kita menulis Alquran dengan cara yang tertentu” Rasulullah SAW, hanya memerintahkan menulis Alquran dan tidak menerangkan cara menulisnya.
3)      Pengarang Attibyan dan Al-burhan memilih pendapat yang dipahamkan dari perkataan Ibnu ‘Abdis salam, yaitu kebolehan kita menulis Alquran untuk manusia umum menurut istilah-istilah yang dikenal oleh mereka dan tidak diharuskan kita menulis menurut tulisan lama. Karena dikhawatirkan akan meragukan mereka.
 Dan harus ada orang yang memelihara tulisan lama sebagai barang pustaka yakni orang ‘Arifin. Maka kami menulis ayat-ayat menurut istilah baru (istilah para ulama) sesuai dengan undang-undang Imla’ yang mudah dibaca orang. Dan tidak ada salahnya pula orang menulis ayat-ayat dengan tulisan latin, asal qiraatnya benar.